Firasat Anak Korban Kecelakaan Maut Tanjakan Emen yang Kini Jadi Yatim Piatu
Firasat Anak Korban Kecelakaan Maut Tanjakan Emen yang Kini Jadi Yatim Piatu

Firasat Anak Korban Kecelakaan Maut Tanjakan Emen yang Kini Jadi Yatim Piatu

Mata Yuliana merah dan sembab saat menceritakan kisah pilu mengenai kedua orang tuanya Jono (56) dan Sugianti (55) yang tewas dalam kecelakaan bus maut di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat. Yuliana mengungkap sempat mengingatkan kedua orang tuanya agar tak berangkat.

"Kalau firasat nggak ada, cuma saya sempat melarang karena pas alamarhumah pamit mau ke Bandung kan posisinya kita lagi nonton berita longsor di Puncak sama di bandara itu. Lalu almarhum mama bilang nanti kalau hari Sabtu dia juga mau ke Bandung katanya begitu, saya tanya ke Bandungnya ke mana katanya ke Maribaya kata dia," kata Yuliyana di rumahnya, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Minggu (11/2/2018).

"Sudah saya larang, karena beliau tidak enak karena memang ini semua satu grup pergi senua jadi beliau nggak enak. Biasanya tuh kalau mau pergi pamit walaupun anak-anak dalam posisi tidur itu dia pamit cuma ini nggak tahu kenapa nggak pamit. Kita bertiga anak-anaknya nggak ada yang dipamitin," ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

Dengan suara tercekat, Yuli mengatakan tahu kabar kecelakaan itu dari anaknya. Saat itu, Yuli bergegas pulang dan melihat berita di TV lalu memutuskan untuk pergi ke RSUD Subang. Di RS Subang akhirnya ia melihat jenazah kedua orang tuanya.

"Kita kan berita masih simpang siur waktu itu, nomer bapak itu masih aktif malah sampai sekarang pun masih aktif. Jadi pikiran saya apa bapak lagi sibuk nyelametin korban makanya tidak kabari. Cuma firasat saya bilang kalau bapak bukan di bus itu, dia di 2 bus lain kenapa kok teleponnya nggak diangkat," kenangnya.

"Itu feeling saya sudah makin kuat akhirnya jam 19.30 WIB hari sabtu itu juga saya dan adik saya langsung berangkat. Begitu di jalan ditelepon korban di bawa ke RSUD Subang jadi saya langsung ke Subang," sambungnya.

Dia juga bercerita sempat mendapat firasat sebelum peristiwa tersebut. Anak pertama dari tiga bersaudara itu bermimpi rumah yang dia tempati hancur.

"Firasat saya makin kuat itu karena pas hari H saya bangun karena mimpi. Jadi pas hari berangkat itu rumah ini hancur total nggak tersisa dan saya kaget langsung bangun dan posisinya pas subuh jadi saya langsung salat subuh," ujarnya lirih.

Yuli mengaku kaget saat melihat jenazah kedua orang tuanya. Musababnya dia menemukan luka yang sama di tangan ayah dan ibunya padahal posisi duduk keduanya berbeda.

"Mereka seperti janjian sih karena posisi lukanya itu di tangan, di pergelangan tangan kan ini patah, dua-duanya patah di tangan kiri jadi mereka seperti sudah janjian padahal mereka duduknya tidak bersamaan yang saya tahu tapi posisi tangan mereka patahnya ditempat yang sama dan posisi yang sama di tangan kiri," kata Yuli.

Dengan suara tercekat, Yuli mengatakan akan menjalankan amanah kedua orang tuanya. Dia mengatakan, saat masih hidup kedua orang tuanya ingin dimakamkan dengan pakaian ihram yang digunakan saat umrah.

"Mama sama bapak punya pesan, 'kalau meninggal nanti tolong kain ihram dia bekas umrah dibawa' jadi saya mau mastiin bahwa kain ihram dia sudah dipasangin, itu saja," ungkapnya.

Jenazah Jono dan Sugianti dimakamkan bersama tujuh orang lainnya di kuburan massal yang disediakan pihak Kecamatan Ciputat Timur. Kedua pasangan ini pun dimakamkan berdekatan.

"Untuk pemakamannya kebutulan mama dan bapa 1 liang itu ada 9 orang tapi dikasih batas tanah tapi memang sebelahan, dari Pemda sudah berkoordinasi karena kalau satu satu kan lama ya karena banyak jadi mungkin pakai alat berat jadi sekali," kata Yuli.

Baca:

Buka Komentar