Terkait Kunjungan Jokowi Ke Afganistan, Fahri: Tidak Perlu ada Dramatisasi Karena ini Biasa-biasa Saja
Terkait Kunjungan Jokowi Ke Afganistan, Fahri: Tidak Perlu ada Dramatisasi Karena ini Biasa-biasa Saja

Terkait Kunjungan Jokowi Ke Afganistan, Fahri: Tidak Perlu ada Dramatisasi Karena ini Biasa-biasa Saja

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai tak ada resiko bahaya dari langkah Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Afghanishtan.

Meski situasi Afghanistan tengah bergejolak dan baru saja terjadi serangan bom, namun ia meyakini kunjungan seorang Kepala Negara dengan segala pasukan pengamanannya tetap akan berlangsung aman.

"Jadi tidak perlu ada dramatisasi karena ini biasa-biasa saja," kata Fahri dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Selasa (30/1/2018).

Fahri pun menceritakan pengalamannya memimpin rombongan DPR berkunjung ke Iraq pada Januari 2016 lalu. Menurut dia, saat itu Iraq masih dalam suasana perang. Namun, meski dengan pengamanan yang tak seketat Presiden, tak ada gangguan keamanan yang terjadi.

"Saya terbang ke Irak dalam suasana yang belum aman, dimana hanya green zone, daerah yang terbatas sekali 12 kilometer yang dijamin aman, yang lainnya itu tidak aman, tidak ada masalah kita terbang saja," kata dia.

Apalagi, lanjut Fahri, saat ini Indonesia tidak memiliki musuh. Semua negara ditempatkan sebagai sahabat. Ia pun membandingkan dengan era Presiden Soekarno dan Soeharto, dimana Indonesia memiliki banyak musuh.

"Setelah Bung Karno yang pidatonya kemana-mana memaki-maki negara imperialis, negara-negara barat, beliau bebas saja pergi ke barat, padahal dengan pidato-pidatonya dan politik luar negeri Indonesia, dia sebetulnya menciptakan banyak musuh di luar negeri," kata Fahri.

"Pak Harto dulu menyelundupkan senjata ke Bosnia untuk membela masyarkat muslim Bosnia dalam perang balkan, mantan Yugoslavia melawan Serbia yang melakukan genosida. Lalu Pak Harto terbang kesana dalam suasana belum aman dan beliau membangun masjid di Bosnia," tambahnya.

Setelah era Presiden Soekarno dan Soeharto, Fahri menilai sudah tak ada lagi Presiden Indonesia yang punya musuh di luar negeri. Sebab, presiden setelah itu umumnya rata-rata adalah orang yang lembek dan tidak punya politik luar negeri yang jelas.

"Ringkasnya sebetulnya tidak ada, ancaman apapun diluar negeri bagi pemimpin-pemimpin Indonesia, termasuk Presiden," kata dia.

Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke Kabul, Afghanistan, Selasa (30/1/2018). Kunjungan tetap dilakukan meskipun dua hari sebelumnya terjadi serangan bom bunuh diri yang menewaskan sedikitnya 103 orang.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung menceritakan, pemerintah Afghanistan memberlakukan pengamanan yang sangat ketat kepada Presiden Jokowi dan rombongan. Pengamanan ketat mengawal delegasi setibanya di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, sampai Istana Agr tempat Presiden Afghanistan Asraf Ghani sudah menunggu.

"Sepanjang jalan dari Airport ke Istana Presiden Afganistan melalui jalan-jalan berbeton, kendaraan lapis baja dan 2 heli terbang diatas mobil Presiden," kata Pramono.

Selain itu, mobil dan rompi anti peluru juga disiapkan. Namun, Jokowi menolak menggunakan rompi anti peluru.

Presiden merasa pengamanan yang diberlakukan oleh pihak Afghanistan bekerjasama dengan Pasukan Pengamanan Presiden sudah cukup.

Pramono juga mengakui ada ketegangan pada pembantu Presiden yang ikut dalam kunjungan itu. Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki misalnya, sampai lupa membawa baju hangat untuk melawan udara di Kabul yang sedang musim dingin dan tengah turun salju.

"Pak Teten karena tegang, lupa membawa baju untuk udara dingin, dan memakai selimut pesawat untuk menahan rasa dingin dan dipikir ulama dari Indonesia," kata Pramono.

Dalam foto yang dibagikan, tampak Teten mengenakan selimut pesawat sebagai syal dan dikalungkan ke bagian lehernya.

Selain itu, ada juga cerita Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayjen Suhartono. Setelah kunjungan di Afghanistan sekitar 6 jam selesai, keduanya langsung sujud syukur saat memasuki Pesawat Kepresidenan.
source: tribunnews

Baca:

Buka Komentar