Tanggapan Mahfud MD dan Menkes Soal Kencing Unta
Tanggapan Mahfud MD dan Menkes Soal Kencing Unta

Tanggapan Mahfud MD dan Menkes Soal Kencing Unta

Ahli Hukum dan Tata Negara Mahfud MD menanggapi pertanyaan netizen soal 'polemik' kencing unta.

Hal tersebut berawal ketika mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mendapatkan pertanyaan dari seorang netizen terkait halal atau haramnya kencing unta.

Pernyataan itu diajukan ke akun jejaring sosial Twitter milik Mahfud MD, @mohmahfudmd

"Assalamualaikum prof @mohmahfudmd Mengganggu, semoga pertanyaan ini menambahkan keimanan semua orang prof @mohmahfudmd? Haramkah meminum air kencing Unta?" kicau akun @dimasfmaulana.
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Mahfud MD.

Mananggapi pertanyaan itu, Mahfud MD berkicau bahwa keimanan seseorang tidak bisa diukur dari kencing unta.

Bahkan, Mahfud menyarankan si penanya menenggak air kelapa, karena lebih segar.

Mahfud menambahkan bahwa beragama itu boleh yang enak, tapi tidak boleh seenaknya.
Tak puas, netizen tersebut pun tetap menanyakan kebolehannya dan mencantumkan hadis dalam pertanyaan berikutnya

Mahfud pun tidak melarang dan memperbolehkan si penanya jika menggunakan hadis tersebut sebagai pedoman saat menenggak urine unta.

Yang terang, menurut Mahfud, dirinya jijik jika minum kencing unta dan yang menjijikan itu haram menurutnya untuk dikonsumsi, kecuali darurat.

"Silahkan saja pakai hadits tsb. Itu hadits shohih yang bagus. Tp kalau saya minum kencing onta itu jijik. Setiap yg menjijikkan haram dikonsumsi, kecuali darurat. Bkn berarti semua yg tak menjijikkan itu halal, loh," cuit akun @mohmahfudmd.

Kata Menkes soal Kencing Unta

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, ikut angkat bicara mengenai video Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), Bachtiar Nasir, yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya.

Pada video tersebut Bachtiar meminum kencing unta yang dicampur dengan susu.

Menurut Nila, kencing atau urin merupakan hasil pembuangan dari tubuh manusia yang dikeluarkan dari ginjal.

Dirinya menganologikan ginjal sebagai water closet (WC) yang menjadi tempat manusia untuk melakukan pembuangan kotoran.

"WC yang kotor kan dibuang, lah buangan kan udah kotor. Lah udah dibuang kok diminum lagi," ujar Nila di Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (10/1/2018).

Nila mengatakan bahwa pernyataannya ini didasarkan pada penelitian ilmiah.

Dirinya mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di laboratorium terdapat kandungan bakteri pada urin.

"Kita lihat di laboratorium, urin bisa juga ada bakteri terus kita telan lagi bakteri tersebut. Ini yang harus secara ilmiah kita teliti betul," ujar Nila.

Dirinya mengatakan jika terdapat manfaat pada urin, seharusnya dilakukan penelitian lebih dulu. Baru urin bisa dimanfaatkan.

"Mungkin bisa betul tapi harus kita teliti betul ada apa di urin ini, dan tdk semua bisa diambil mungkin ada beberapa zat yang bisa digunakan untuk apa," kata Nila.

Baca:

Buka Komentar