John Nainggolan Tidak Tahu Sahamnya Tiba-tiba Beralih ke Sandiaga Uno
John Nainggolan Tidak Tahu Sahamnya Tiba-tiba Beralih ke Sandiaga Uno

John Nainggolan Tidak Tahu Sahamnya Tiba-tiba Beralih ke Sandiaga Uno

pinemu~ Saham John Nainggolan di Japirex lenyap dan berpindah tangan ke Sandiaga Uno. Perpindahan itu tertulis dalam dokumen jual-beli yang di atasnya dilengkapi meterai serta tanda tangan Sandiaga dan John Nainggolan.

Dalam akta perubahan susunan Direksi PT Japirex, John juga disebutkan mengundurkan diri. “Padahal, saya tidak pernah melakukan itu juga menjual saham Japirex,” kata pria 61 tahun itu.  Berikut wawancara dengan John Nainggolan.

Bagaimana ceritanya Anda sampai memiliki saham di PT Japirex?

Pak Edward Soeryadjaya menjadikan saya sebagai nominee pemegang saham serta komisaris. Pak Edward kemudian menitipkan saham-saham Japirex Pak Iwan Muhidin ke saya. Waktu itu, semua dilakukan di depan Pak Andreas Tjahjadi dan Takala Hutasoit (pengusaha sekaligus orang dekat Edward).

Peralihan saham itu melalui jual-beli?

Semua saham Japirex itu sebenarnya punya Pak Edward. Jadi saya tidak mengeluarkan uang. Prinsipnya pertemanan saja. Dia mempercayakan kepada kami sebagai teman-teman dekat. Pak Andreas itu juga teman sekolah, bahkan teman main Pak Edward sejak kecil. Saya kemudian jadi komisaris, tapi tidak aktif di Japirex.

Benarkah Anda melakukan jual-beli saham Japirex dengan Sandiaga Uno?

Tidak ada perjanjian. Saya juga tidak tahu saham saya ternyata sudah beralih ke Sandiaga. Pada 2001, saya juga tidak pernah bertemu notaris maupun Pak Sandi.

Tapi ada surat perjanjian jual-beli saham yang diteken Sandiaga dan Anda?

Saya pernah melihat ada surat perjanjian itu dari pengacara. Tapi saya tidak menandatangani. Istri saya juga tidak pernah melakukan itu. Dia tidak ikut-ikutan dalam bisnis.

Mungkin Anda diminta Pak Edward mengalihkan saham ke Sandiaga?

Tidak ada perintah dari Pak Edward.
Tidak ada pemberitahuan ke saya tentang adanya perintah dari Pak Edward kepada Sandiaga untuk ambil alih saham.

Itu alasan Anda kemudian membuat surat pernyataan di atas materai yang membantah isi perjanjian jual-beli saham?

Ini sebenarnya kan persoalan kecil, cuma duit Rp 12 miliar. Kalau diselesaikan lebih awal, tak akan ada masalah. Ketika ramai di koran, saya jadi ingat saya ada di Japirex. Dan ketika telanjur begini, ya saya tak ada pilihan. Ini karena menyangkut kepercayaan Pak Edward kepada saya.

Maksud Anda?

Saya dihubungi by phone oleh Pak Edward. “John benar saham kamu jual ke Sandi?”. Saya kaget. Saya katakan, “Saya tidak pernah menjual saham itu”. Dalam beberapa kali pertemuan, saya jelaskan ke Pak Edward, saya tidak pernah menjual. Pak Edward bilang, “Kalau tidak menjual, ya buktikan.”

Dalam akta notaris hasil RUPS Japrex yang kami dapat, tertulis Anda mundur sebagai komisaris utama?

Saya tidak mengundurkan diri, tapi saya memang tidak aktif sebagai pengurus di Japirex. Ketika ramai di media (soal jual-beli lahan Japirex), saya ingat kalau ada saya di Japirex. Setelah itu, Pak Edward menghubungi saya. Saya kemudian bertemu Pak Edward setelah lama tak bertemu dengan dia.

Anda bertemu dengan Edward di mana saja?

Saya bertemu empat kali, dua kali di Jalan Teluk Betung dan dua kali di Hotel Dharmawangsa.

Kalau hubungan Sandiaga dan Edward sepengetahuan Anda seperti apa?

Pak Sandiaga itu sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Pak Edward. Pak Edward mengenal Sandi dari ibunya, Mien Uno. Waktu Sandiaga masih kecil, ibunya menitipkan Sandiaga ke Pak Edward. Mien Uno akrab dengan Pak Edward. Kemudian Pak Edward menyekolahkan Sandiaga mengambil S2 di Amerika Serikat. Sebelumnya, lulus S1 dia kerja di Bank Summa.

Sejak kapan Anda kenal Sandiaga Uno?
Saya kenal Pak Sandiaga pada 1996 atau 1997. Pak Edward yang mengenalkannya di Singapura. Kemudian kami bertemu beberapa kali, termasuk di Kanada. Itu juga dengan Pak Edward. Lalu pertemuan kami yang terakhir tiga atau empat tahun lalu saat berpapasan di bandara Singapura.
source: kompas

Baca:

Buka Komentar